Seiring perkembangan teknologi dan masuknya budaya asing ke Bali, membuat Bahasa dan Aksara Bali menjadi semakin terpinggirkan. Munculnya anggapan bahwa yang mempelajari Aksara Bali dan Bahasa Bali hanya orang-orang tua saja dibantah oleh seorang pemuda yang bernama Made Arya Kusuma yang tertarik dan berhasil membuat sebuah aplikasi yang mempermudah orang dalam mengerti bahasa dan aksara Bali. Dia membuat aplikasi yang berbasis mobile karena jaman sekarang dari anak-anak hingga dewasa sudah mempunyai sebuah Smart Phone yang bisa diinstalkan aplikasi yang dibuatnya.
Awal mula ketertarikan dari pemuda yang lahir 10 Nopember 1996 ini pada saat diberikan buku tentang Huruf Hiragana dari pamannya yang ada di Jepang. Dia melihat buku yang diberikan oleh pamannya itu sangat penuh dengan warna dan bagus, juga berisi cara menulis huruf Hiragana. Dari sana muncul ide bagaimana mengangkat budaya Bali agar lebih dikenal luas.
Dari pengalamannya, dia berpendapat bahwa pembelajaran bahasa dan aksara Bali hanya menulis saja terkesan terlalu monoton sehingga membuat siswa bosan. Sebagai pemuda yang telah mengalami, ia tahu belajar bisa dilakukan dengan melihat, mendengar, dan menulis. Kalau hanya monoton menulis saja, siswa bisa bosan. Ia berharap sekali waktu itu ada video untuk bahan pembelajaran.
Galau mendengar berita bahasa Bali akan dihapus. Ia pun mencoba merealisasikan idenya untuk membuat sesuatu agar bahasa Bali dan huruf Bali tetap eksis. Karena memiliki ketertarikan di dunia teknologi digital, dan mendapatkan kesempatan magang di Bamboo Media, Arya pun merancang game interaktif yang berbasis Mobile.
Pada Lomba Marketeers Techo Start Up Icon 2014 yang diselenggarakan Marketeers bekerja sama dengan Nanyang Technology University. Arya yang berkolaborasi dengan Agus Widi membuat tim ADA Studio untuk aplikasi huruf Bali. Ia juga dibantu Dwi Paramandita dan didampingi Putu Sudiarta.
Saat lomba, aplikasi “Learning Aksara Bali” lolos seleksi dan Arya harus presentasi di hadapan juri. Ia satu-satunya peserta dari SMK, yang lainnya dari kalangan profesional. Panitia pun membolehkan Arya presentasi terakhir. Kesempatan ini digunakan Arya untuk mempelajari karakter peserta sekaligus mencari format presentasi yang bagus.
Walau sedikit grogi, ia bisa menyelesaikan presentasi. Aplikasi ini nantinya bisa masuk Android dan iOS, bisa membantu orangtua mengajarkan anaknya huruf Bali serta memiliki nilai komersil jika dijual. Penjelasan secara runut ini membuat juri terkesima dengan ide dari seorang siswa SMK. Terlebih lagi dia berhasil memenangkan lomba tersebut dan mendapat pujian dari Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra.
Rai Mantra berpendapat aplikasi yang ia buat akan sangat membantu guru-guru dalam mengajar Bahasa Bali. Aplikasi ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai pengantar. Ada tiga menu utama yang ditampilkan, Aksara Wianjana, Pengangge Suara, serta Arda Suara dan Tengenan. Setelah menyelesaikan pelajaran ini, pengguna bisa bermain puzzle dan mencocokkan gambar. Bagi yang belum fasih huruf Bali, aplikasi ini sangat membantu karena bisa mengetahui bentuk huruf Bali.
“Saya berharap pembelajaran bahasa Bali bisa menyenangkan dan mengasyikan. Siswa tidak lagi bosan. Bahkan, orang asing pun bisa belajar huruf Bali,” ujar remaja yang bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang TI dan fokus di program coding ini. Aplikasi yang dibuat bisa diunduh di playstore dengan alamat https://play.google.com/store/apps/details?id=net.bamboomedia.learningaksarabali. (sumber tokoh.co.id)
10 November 2025
26 Oktober 2025
25 September 2025