Upaya pelestarian lingkungan melalui pengolahan sampah dan upaya pelestarian budaya yang bernilai filosofi tinggi mesti dilakukan sejak dini. "Karena anak-anak lebih mudah menyerap berbagai informasi dan aktif mencoba sesuatu yang baru," tegas Kadek Wahyudi Ketua Panitia Lomba Ketrampilan Barang Bekas Sampah serangkaian Rare Bali Festival di Puri Agung Kesiman Sabtu (9/8) lalu. Lomba Ketrampilan diikuti oleh siswa/siswi SMP se–Kota Denpasar antara lain SMP Cipta Dharma, SMP PGRI 5 Denpasar, SMP Negeri 7 Denpasar, SMP Negeri 10 Denpasar dan SMP Harapan Nusantara.
Penanaman kepedulian ini perlu dilakukan sejak dini agar terbentuk budaya dan karakter yang peduli pada kebersihan dan mau berkreatifitas mengolah sampah agar tidak menumpuk,” tegas Wahyudi lagi. Senada dengan Wahyudi, Bendi Yudha, instruktur Workshop Keterampilan Tradisional Melukis Wayang dan Ngukir di Rare Bali Festival mengatakan bahwa budaya dan permainan tradisional mesti dikenalkan sejak dini agar tidak dilupakan dan dianggap asing oleh anak-anak kita. Kegelisahan ini diungkapkan mengingat semakin maraknya berbagai permainan anak-anak modern (game) dan film animasi produk mancanegara yang bisa menggerus keberadaan kesenian dan permainan tradisional.
Lebih jauh Kadek Wahyudi menegaskan bahwa salah satu permasalahan sampah di Kota Denpasar adalah masih rendahnya minat pengolahan sampah. Akibatnya volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) makin menumpuk. “Padahal jika dilakukan penanganan yang baik beberapa bagian dari sampah masih dapat dipergunakan lagi (recycling) menjadi barang yang bermanfaat dan hal tersebut perlu dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Kadek Wahyudi juga menegaskan bahwa pelaksanaan lomba ini bertujuan memotivasi anak–anak dalam menumbuhkembangkan bakat dan daya kreativitas mereka sejak dini untuk mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat. “Pengolahan sampah mesti dilakukan sejak dini agar terbentuk budaya dan karakter yang peduli pada kebersihan dan mau berkreatifitas mengolah sampah agar sampah tidak menumpuk,” tegas Wahyudi lagi.
Upaya pengolahan ini dilakukan sejak dini juga untuk menularkan kesadaran dan kepedulian tersebut kepada teman sebaya dan lingkungan dari sang anak. Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga karya dan kreatifitas anak-anak mendapat tempat di ruang publik. “Lewat ruang publik tersebut juga akan dapat menularkan dan menumbuhkembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap sampah dan kebersihan kepada warga Kota Denpasar lainnya,” tegas Wahyudi lagi.
Salah satu dewan juri, Komang Dwi Darmausadi menyampaikan bahwa kriteria penilaian berdasarkan pada ide, bentuk, keunikan dan kerapian. “Selain itu yang paling penting adalah bahan-bahan pembuatnya harus dari barang bekas atau sampah,” ujar Komang Dwi lagi. Serangkaian lomba juga dibagikan suvenir yang berasal dari Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Setiap peserta diminta untuk melantunkan yel-yel untuk mendapatkan suvenir dimaksud.
Dalam kejuaraan tersebut SMP Negeri 7 Denpasar dengan karya “Keranjang Multifungsi Ramah Lingkungan” berhasil meraih posisi terhormat sebagai juara satu. Sedangkan SMP PGRI 5 Denpasar berada di posisi kedua. Juara tiga dan harapan satu diraih oleh SMP Harapan Nusantara dan SMP Cipta Dharma. SMP N 10 Denpasar dan SMP Harapan Nusantara harus puas di posisi harapan dua dan harapan tiga.
Sementara itu Bendi Yudha yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini menyampaikan perlunya upaya berkelanjutan serta sinergi pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan seni pewayangan yang bernilai tinggi dalam budaya Bali agar tidak punah ditelan zaman dan arus budaya asing. “Rare Bali Festival merupakan sebuah perwujudan sinergi pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan budaya luhur kita sehingga patut diapresiasi dan dilanjutkan,” tegas Bendi yang bersama rekan-rekannya membimbing anak-anak siswa SD dan SMP se-Kota Denpasar yang menjadi peserta workshop tersebut.
Pihaknya berharap melalui workshop ini dapat mengenalkan tokoh-tokoh pewayangan sejak dini kepada anak-anak. “Anak-anak dibimbing untuk mengenali wayang mulai dari mengenali bentuk, perwujudan tokoh dan mengenali pewarnaannya,” tegas Bendi. Lewat workshop inipula diharapkan para siswa yang mempunyai bakat melukis dapat menyalurkan ide dan hobinya serta menumbuhkan daya kreatifitasnya. “Ke depan paling tidak dapat tercipta pelukis – pelukis Bali yang handal,” pungkasnya.
Menurutnya pelestarian lukisan wayang merupakan salah satu seni budaya yang bernilai filosofi tinggi. “Seni wayang mengajarkan ajaran-ajaran yang baik bagi pembentukan budaya dan prilaku anak-anak,” jelasnya. Pengenalan para tokoh wayang diharapkan akan dapat memberi keteladanan sikap dan budaya yang baik bagi anak-anak. “Misalnya mengenalkan tokoh Yudistira yang memegang teguh ajaran dharma serta Arjuna yang merupakan sosok ksatria yang teguh pendirian,” tegas Bendi lagi. (Putu. M - G. Edy)
10 November 2025
26 Oktober 2025
25 September 2025